Dongeng “Kungkang yang Suka Membaca” Tanamkan Semangat Literasi Anak TK di RA.NU Darul Ulum
Kotabaru, Saijaannews — Suasana kelas di RA.NU Darul Ulum pagi itu tampak berbeda. Rabu (4/7), anak-anak TK tampak berkumpul dengan semangat mendengarkan cerita dari Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarsipus) Kotabaru.
Cerita berjudul “Kungkang yang Suka Membaca” dibawakan secara interaktif untuk menumbuhkan semangat literasi sejak usia dini.
Cerita ini mengisahkan seekor kungkang yang lamban namun rajin membaca, hingga akhirnya menjadi hewan yang paling pintar dan disukai oleh teman-temannya. Alur cerita yang ringan dan penuh pesan moral membuat anak-anak betah menyimak dari awal hingga akhir.
“Kegiatan ini sangat positif untuk mendekatkan anak pada buku dan dunia membaca,” ujar Rahmi, S.Pd.AUD, Kepala RA.NU Darul Ulum.
Menurutnya, metode bercerita menjadi salah satu cara yang efektif dalam pendidikan anak usia dini. Selain memperluas kosakata, kegiatan ini juga mampu merangsang imajinasi dan membentuk karakter anak yang mencintai buku.
Setelah mendengarkan dongeng, anak-anak diajak berdiskusi mengenai isi cerita. Mereka diberi kesempatan mengungkapkan apa yang mereka sukai dari tokoh kungkang dan pelajaran apa yang bisa diambil. Kegiatan ini pun dilanjutkan dengan pembagian buku bacaan ringan agar anak-anak dapat membawa pulang semangat membaca ke rumah.
“Anak-anak terlihat sangat senang, terutama saat mereka diajak berinteraksi. Ini membantu mereka lebih memahami isi cerita,” jelas salah satu guru kelas.
Kegiatan ini juga disambut baik oleh para orang tua. Mereka berharap kegiatan serupa bisa menjadi agenda rutin sekolah, agar kecintaan terhadap membaca bisa terus berkembang.
Disarsipus Kotabaru menyampaikan bahwa kegiatan bercerita ini merupakan bagian dari program literasi keliling yang menyasar PAUD dan TK di wilayah Kotabaru. Program ini bertujuan menanamkan minat baca sejak dini dan membangun fondasi literasi yang kuat bagi generasi masa depan.
“Semakin sering anak-anak dikenalkan pada buku dan cerita, semakin besar peluang mereka menjadi pembaca aktif dan kritis,” ujar salah satu petugas Disarsipus yang menjadi pendongeng hari itu.
Dengan pendekatan yang menyenangkan dan edukatif, diharapkan anak-anak akan melihat membaca sebagai aktivitas yang menyenangkan, bukan kewajiban.
